Resensi Buku: Daddy Long-Legs oleh Jean Webster
Identitas Buku:
Judul : Daddy-Long-Legs
Penulis : Jean Webster
Tahun Terbit : 2017
Penerbit : PT Gramedia
Jumlah hal : 200 hal.
Finally aku mendapat kesempatan untuk membaca buku ini setelah menemukannya di perpustakaan universitasku. Awalnya aku hanya iseng mencari novel di perpustakaan karena mendapat tugas untuk pelatihan TIK lalu akhirnya menemukan buku ini.
Daddy long legs dalam bahasa Inggris adalah sebutan untuk laba-laba berkaki panjang. Namun, oleh Jerusha Abbott, kata tersebut ia pakai untuk menjuluki seorang pria budiman yang telah menyantuninya bersekolah di perguruan tinggi. Pria baik hati itu hanya mensyaratkan Judy (nama kecil Jerusha) menulis laporan kemajuan studinya dalam bentuk surat setiap bulan. Sebuah syarat yang sangat mudah, apalagi bagi seorang gadis yang memang senang menulis seperti Judy. Maka, gadis yatim piatu itu pun meninggalkan Panti Asuhan John Grier setelah selama delapan belas tahun menjadi penghuni di dalamnya.
Kisah yang sesungguhnya pun dimulai, dari awal hingga akhir semua tersaji dalam bentuk surat Judy kepada Daddy Long Legs. Dengan gaya tulisan yang menyenangkan, Judy bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya selama menjadi mahasiswa: pelajaran-pelajarannya, teman-teman, liburan, buku-buku, cowok-cowok, dan apa saja yang dipikirkannya. Ia menulis seolah-olah bercakap-cakap langsung dengan si pembaca suratnya. Ia menulis kejadian hari demi hari sehingga kau akan merasa seakan-akan tengah membaca sebuah buku harian seorang gadis yang periang, cerdas, dan penuh harga diri. Ceritanya cewek banget deh.
Meski tidak pernah berjumpa dengan Daddy Long Legs yang misterius itu, namun dalam hati Judy telah tumbuh benih-benih kasih sayang kepada lelaki yang–sesuai persyaratan–tidak pernah membalas surat-suratnya itu. Malah, diam-diam Judy telah menganggap sang tuan budiman yang minta dipanggil dengan nama Mr. John Smith ini sebagai ayah yang tidak pernah dimilikinya. Perasaan tersebut lama kelamaan menerbitkan harapan pada diri Judy suatu saat akan bisa berjumpa langsung dengan penolongnya tersebut.
Novel klasik karya Jean Webster ini terbit pertama kali di Amerika pada 1912. Ketika itu, tentu saja, surat masih menjadi pilihan utama sebagai alat komunikasi yang efisien setelah telepon, terutama jika kita harus menyampaikan sebuah laporan yang panjang pada seseorang yang berada jauh dari kita. Dan sekalipun novel ini berbentuk surat-surat, tetap menyenangkan membacanya. Segar, jenaka, dan kadang-kadang menyentuh hati. Jika kau pernah membaca Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery), kau akan menemukan spirit yang sama di dalamnya. Kau akan berjumpa dengan seorang gadis dengan karakter mirip Anne: cantik, cerdas, humoris, suka berkhayal, dan tidak pernah mengeluhkan nasib malangnya sebagai seorang anak yatim piatu.
Sejak kemunculannya, Daddy Long Legs terus memperoleh sambutan hangat dari khalayak pembaca, bahkan kemudian diangkat menjadi sandiwara panggung serta film layar lebar. Salah satunya yang cukup terkenal dibuat tahun 1955 dengan bintang Fred Astaire. Buku yang menarik ini layak dan aman dibaca oleh seluruh golongan umur. Dua tahun berikutnya, terbit buku lanjutannya: Dear Enemy.
Kisah yang sesungguhnya pun dimulai, dari awal hingga akhir semua tersaji dalam bentuk surat Judy kepada Daddy Long Legs. Dengan gaya tulisan yang menyenangkan, Judy bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya selama menjadi mahasiswa: pelajaran-pelajarannya, teman-teman, liburan, buku-buku, cowok-cowok, dan apa saja yang dipikirkannya. Ia menulis seolah-olah bercakap-cakap langsung dengan si pembaca suratnya. Ia menulis kejadian hari demi hari sehingga kau akan merasa seakan-akan tengah membaca sebuah buku harian seorang gadis yang periang, cerdas, dan penuh harga diri. Ceritanya cewek banget deh.
Meski tidak pernah berjumpa dengan Daddy Long Legs yang misterius itu, namun dalam hati Judy telah tumbuh benih-benih kasih sayang kepada lelaki yang–sesuai persyaratan–tidak pernah membalas surat-suratnya itu. Malah, diam-diam Judy telah menganggap sang tuan budiman yang minta dipanggil dengan nama Mr. John Smith ini sebagai ayah yang tidak pernah dimilikinya. Perasaan tersebut lama kelamaan menerbitkan harapan pada diri Judy suatu saat akan bisa berjumpa langsung dengan penolongnya tersebut.
Novel klasik karya Jean Webster ini terbit pertama kali di Amerika pada 1912. Ketika itu, tentu saja, surat masih menjadi pilihan utama sebagai alat komunikasi yang efisien setelah telepon, terutama jika kita harus menyampaikan sebuah laporan yang panjang pada seseorang yang berada jauh dari kita. Dan sekalipun novel ini berbentuk surat-surat, tetap menyenangkan membacanya. Segar, jenaka, dan kadang-kadang menyentuh hati. Jika kau pernah membaca Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery), kau akan menemukan spirit yang sama di dalamnya. Kau akan berjumpa dengan seorang gadis dengan karakter mirip Anne: cantik, cerdas, humoris, suka berkhayal, dan tidak pernah mengeluhkan nasib malangnya sebagai seorang anak yatim piatu.
Sejak kemunculannya, Daddy Long Legs terus memperoleh sambutan hangat dari khalayak pembaca, bahkan kemudian diangkat menjadi sandiwara panggung serta film layar lebar. Salah satunya yang cukup terkenal dibuat tahun 1955 dengan bintang Fred Astaire. Buku yang menarik ini layak dan aman dibaca oleh seluruh golongan umur. Dua tahun berikutnya, terbit buku lanjutannya: Dear Enemy.



Komentar
Posting Komentar